Feeds:
Tulisan
Komentar

Mulai tadi pagi saya merasakan bete ketika sedang mengetik. Keyboard ini terasa membuat jari – jari tangan tidak nyaman seolah sedikit – sedikit tergelincir dan keseleo. Habis itu suara berisiknya tidak mengenakan telinga. Saya juga tidak habis pikir dengan keyboard yang belum beberapa bulan saya ganti dan kenapa akhir – akhir ini telinga saya menjadi sensi dan mudah alergi.

Mengalihkan penglihatan dari monitor untuk memastikan biang penyebab kebetean, mendapati bahwa memang benar bahwa keyboard itu baru berusia beberapa bulan dan kelihatan tidak berubah, yang kelihatan kemudian menimbulkan pertanyaan adalah, sudah berapa bulankah saya tidak memotong kuku. (lol) Ketahuan masalahnya kalau saya sedang 130/80, yang menjadikan ngasalnya menjadi jadi.

Sekali ngasal tetap ngasal. Adakah keyboard yang di desain untuk nyaman digunakan bagi yang kurang menerima bahwa memotong kuku itu suatu kebenaran? Atau lebih benarnya malas memotong kuku.

Google Chrome Beta on Karmic Koala

Google Chrome Beta on Karmic Koala

Kesan pertama adalah warna dasar default dan desain antar muka penjelajah laman Chrome yang biru lembut terlihat pas dengan googlewave. Habis dari dapur yang sama, sih. Bagi saya warna dasar default ini bahkan serasi dengan kebanyakan situs favorit saya yang berwarna dasar biru itu. Meski masih versi beta, dan baru beberapa jam menjajal, kecepatan dan kesederhanaan antar muka Chrome, menurut saya layak untuk diandalkan. :D

Bagaimana saya bisa me review secara obyektif kalau dengkul sudah dibuai dengan kesan pertama. Jadi bagi yang tertarik silahkan men download di link berikut :

http://www.google.com/chrome?platform=linux

Dan silahkan juga menengok :

http://www.google.com/chrome/intl/id/features.html?platform=linux

http://www.google.com/googlebooks/chrome/index.html

Google introduced several other products at its event on Monday. The most ambitious, called Google Goggles, allows people to send Google a cellphone photograph of, say, a landmark or a book, and have information about the contents of the image returned to them instantly.

The technology has one potentially provocative use: someone could conceivably send Google a photo of a person — if they fail to remember an acquaintance’s name, for example — and get enough information about him or her to avoid an awkward encounter.

http://www.nytimes.com/2009/12/08/technology/companies/08google.html?ref=technology

***

Mari kita sedikit ber andai – andai. Andaikan di suatu sore ketika sedang berliburan dengan jalan – jalan  di Malioboro bersama geng – geng kita. Kita sedang menikmati pemandangan sore khas jogja lengkap dengan lalu lalang di antara pedagang kaki lima yang banyak berjualan souvenir apik dan khas. Mungkin Anda atau teman anda juga sedang mengamat amati akan memilih salah satu cendera mata itu untuk menjadi pengisi kamar. Namun belakangan anda mengetahui, bahwa sebenarnya yang tampak lebih menarik adalah beberapa cewek cantik yang sedang memilih bandana bermotif batik. Lanjut Baca »

Bukan Kendaraan Perang

Apa Jenis Kendaraan ini?

Apa Jenis Kendaraan ini?

Dilihat dari bentuk rupanya, kendaraan ini memang aneh. Suatu kendaraan beroda dua yang berbeda dari kebanyakan yang sehari – hari saya tumpangi. Meski bukan kendaraan perang militer, mungkin anda bahkan belum pernah sekalipun menumpangi.

Gambar ini sengaja saya ambil dengan tidak jelas dengan kamera ponsel pada kemarin siang di salah satu ruas jalan desa menuju rumah saya karena terbersit di kepala akan suatu kenangan masa kecil seusia sekolah dasar dengan banyak teman sebaya berebutan untuk menumpangi kendaraan “istimewa” ini. Maklum, bagi anak – anak kampung sebaya saya pada jamannya, menumpangi kendaraan merupakan kenikmatan tersendiri yang tidak setiap saat bisa didapatkan.

Bila Anda masih penasaran kaitannya dengan gambar tersebut, mungkin gambar berikut merupakan alenia selanjutnya. Lanjut Baca »

Fatwa Haram Mie Ayam

Mie Ayam

Mie Ayam

Ini adalah saat – saat dimana saya harus memperteguh pendirian dan lebih menahan diri. Penampilan menggoda dari nona nona muda dengan pose menantang dan mie ayam beraroma sedap gurih seolah berkata merayu, “Monggo Mas, silahkan mencicipi. Gurih loh. Sedap loh, Uenak loh, Uenak tenan mas.”

Tidaaak!”

“Demi apapun, saya tidak akan dengan (mie ayam) kamu!”

Boleh dong saya memberi fatwa  halal haram akan sesuatu. Asal tidak memaksakan apa fatwa saya kepada orang lain. Dengan mengingat, memperhatikan, mempertimbangkan  dan seterusnya bahwa mag saya berpotensi kambuh memarah bila nekad menuruti nafsu dengan melahab seperti apa yang dipertontonkan nona nona dalam foto itu.

Tentu, mie ayam bukan satu – satunya jenis makanan yang saya harus berpantang. Masih ada sederet do and don’t bagi pengidap mag  agar kesehatan dan stamina tetap prima. Ada sederet panjang senarai yang disodorkan seolah tanpa rasa bersalah oleh google. Semoga do and don’t itu senantiasa tertempel di depan mata kesadaran  sehingga sampai kapanpun saya tidak akan lupa sehingga  sampai terjadi tindakan bodoh. Amiin.

Dan posting ini bukan merupakan sentimen pribadi atau sentimen kolektif terhadap mie dan penjual mie :D

Peace

Iedul Adha tahun ini bertepatan dengan awal penghujan. Habis hujan pula. Dingin pula. Pasti tanah lapang desa becek. Pasti jalanan menuju lapangan desa becek. Eh tidak, tahun ini, ruas – ruas jalan utama di desa Grogol sudah bercor blog, sebagian beraspal meski sebagian yang lain dalam pengerjaan.

Shalat Ied di lapangan #grogol #indonesiabanget 02

Masih belum jam 06:00 WIB saya sudah berjalan menuju tanah lapang. Tentu saja setelah saya memenangkan pertarungan dengan kemalasan diri. Mandi bersiramkan kedinginan dan tubuh menggigil dengan pilek menyumbat hidung. Saya berjalan kaki berbarengan dengan Fajar. Sementara bapak dan simbok sudah berangkat lebih dulu. Konon, Shalat Ied tahun ini akan dilaksanakan lebih awal dari tahun – tahun sebelumnya. Karena bertepatan dengan Jum’at, sehingga diharapkan waktu untuk penyembelihan hewan Qurban tidak mengganggu Ibadah Jum’at. Begitu isi Surat Edaran dari P2A Desa Grogol. Setahu saya Ibadah Jum’at sudah tidak wajib bagi yang telah menunaikan Shalat Ied. Tetapi biarlah, mungkin mereka punya pertimbangan tersendiri. Lanjut Baca »

Google Wave : Belum Mudeng

Still don't know what to do with this #googlewave priview #wave

Google Wave Preview

Akhirnya, saya dapat kesempatan juga untuk dapat mencicipi google wave. Terimakasih atas kebaikan hati mas Fajar Saptono yang telah mengirimkan invitasi. Meski sampai saat ini saya masih bingung akan bagaimana cara menggunakan wave.

Maklum untuk hal beginian saya masih terlalu gaptek bin ndeso :D

Paperless dan Limbah Batu

Sampah Jaman Batu

Sampah Jaman Batu

Tidak tahu apa jenis makhluk yang  tinggal di lingkungan sekitar tempat ini, namun dari apa yang diperlihatkan oleh foto ini membuat saya menduga bahwa mereka bukanlah Homosapien. Bukan manusia kebanyakan seperti kita. Limbah yang memenuhi keranjang – keranjang itu jelas – jelas adalah batu. Bukan limbah rumah tangga ala kebanyakan. Tidak ada plastik  dan kertas.

Jadi bagi teman – teman penggiat gerakan Plasticless atau Paperless mungkin bisa mengambil studi banding di tempat ini. Siapa tahu bermanfaat.

Foto ini saya ambil pada kemarin siang didepan/sebelah utara Puskesmas Playen.

retouch : Bunga ditepi Jalan

Bunga Ditepi Jalan

Bunga di tepi jalan

Bunga ini melambai – lambai di pinggir jalan pada suatu minggu pagi yang sejuk dan basah awal musim hujan ini. Saya pun menghampiri, mengambil ponsel dari saku dan mengatur ponsel pada mode kamera. Setelah mendapatkan sudut terbaik, timbul rasa ragu – ragu, tidak yakin apakah bunga ini akan lebih baik terambil dengan mode close up atau macro. Apa yang diperlihatkan oleh view vinder LCD dan apa yang bisa dilakukan oleh suatu kamera ponsel tidaklah cukup membuat saya yakin.  Meski ponsel kamera ini sudah saya gunakan hampir setiap hari. Dalam beberapa menit, puluhan gambar dengan obyek bunga yang sama pun akhirnya terambil. Bilapun ada gambar yang tidak bagus dan tidak sesuai keinginan, biarlah, nanti saya masih bisa menggunakan komputer untuk memilih gambar – gambar bunga terbaik dan sedikit menyuntingnya dengan aplikasi pengolah citra.

Mengambil gambar dengan kamera digital agar memenuhi kualifikasi artistik dan teknis yang bagus tidak pernah mudah. Lanjut Baca »

Semasa masih hidup, simbah saya sering bercerita bagaimana rasa segar mandi di siang hari di sumur ini ketika beliau pulang dari menggembala sapi di hutan. Sumur ini terletak di hutan  sebelah barat desa kami. Di sebelah barat dusun Senedi. Disebut Sumur Ngoro  Oro Ciut. Entah apa maksud dari nama itu, tetapi kalau saya boleh menterjemahkan secara asal, bisa jadi berarti Padang (rumput) yang sempit.

Saya sendiri tidak tahu kapan persisnya sumur ini dibuat atau siapa yang membuat, Lanjut Baca »

Tulisan Sebelumnya »